RENDAHNYA APRESIASI PEMERINTAH PADA PENDIDIKAN ATAU RENDAHNYA MINAT BELAJAR ANAK BANGSA?


Pendidikan sejatinya digadang-gadang dapat menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan permasalahan kenegaraan mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Mengapa? Karena pendidikan dinilai sebagai wadah yang ideal dalam membentuk karakter pada anak bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, pendidikan juga sering dinilai sebagai tolak ukur keberhasilan suatu negara, karena negara yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi dinilai mampu melahirkan generasi-generasi yang siap membangun dan memajukan bangsanya.
Akan tetapi, di beberapa negara termasuk Indonesia, permasalahan pendidikan sendiri masih menjadi parasit. Dikutip dari perkataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dalam kompas.com bahwa pendidikan Indonesia masuk ke dalam peringkat 64 dari 65 negara yang dikeluarkan oleh Lembaga Programme for International Study Assessment (PISA) pada tahun 2012, dengan fakta ini dapat dinyatakan bahwa pendidikan Indonesia berada pada situasi yang gawat darurat. Data-data lain mengenai hasil buruk dalam dunia pendidikan Indonesia adalah  nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5 padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75. Selain itu diperkirakan 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan pendidikan minimal.
Dengan realita di atas, siapa yang harus disalahkan? Pemerintah, guru, atau minat anak bangsa dalam belajar? Namun, sejatinya penggiat pendidikan yang diantaranya termasuk guru dan siswa memiliki minat besar dalam pendidikan, namun dikembalikan pada kebijakan dan apresiasi pemerintah terhadap pendidikan di Indonesia. Apresiasi yang rendah akan pendidikan yang ditunjukkan oleh pemerintah salah satunya dapat dilihat dari anggaran APBN untuk sektor pendidikan yang hanya berkutat pada kisaran 20% ke bawah. Bandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki kualitas pendidikan lebih baik, dikutip dari news.okezone.com, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir mengatakan bahwa alokasi dana pendidikan Indonesia baru 0,09% dari PDB, sedangkan negara-negara lain seperti Malaysia sudah menetapkan 1%, Thailand 0,25%, bahkan Singapura sudah berani menetapkan alokasi dana pendidikan dari PDBnya sekitar 2,14%-2,16%.
Jadi, sejatinya masalah rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya dapat disebabkan karena rendahnya apresiasi pemerintah pada pendidikan Indonesia. Namun, tidak bijak rasanya jika hanya memberatkan sebelah pihak. Maka, seluruh komponen pendidikan termasuk guru dan siswa pun harus bahu-membahu dalam ikut memajukan pendidikan Indonesia dengan belajar meningkatkan kompetensi guru, belajar dengan sungguh-sungguh, dan memanfaatkan dengan baik pelayanan pendidikan yang telah diberikan oleh pemerintah saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s