VOOR WAT IK BEN GEBOREN? (Untuk Apa Aku Dilahirkan?)


Coba-coba bikin cerpen nih~

Amsterdam..
13 tahun lalu di negara kincir angin, menurut sejarah yang diriwayatkan orang-orang di sekitarku, aku terlahir disana. Terlahir dengan status berkewarganegaaraan Belanda mengikuti ayahku yang memang penduduk kelahiran disana. Tapi aku berbeda dengan kebanyakan orang, aku terlahir dengan keadaan tak sempurna. Keindahan dunia Eropa tak dapat aku nikmati sejak lahir, keindahannya hanya bayangan maya yang aku dapat dari cerita ibu yang selalu mendongengkan surga eropa ketika aku akan terlelap. Tapi, sekarang aku benar-benar buta, semanjak 5 tahun lalu bidadari surgaku pergi untuk selamanya, konon dia meninggal karena menyelamatkanku yang hampir saja tertabrak mobil, memang anak pembawa sial! Terlahir cacat, nyawa ibuku saja hilang karena aku. Bukankah masih ada ayah? Tak bisa diharapkan hadirnya. “Terlalu sibuk” ya mungkin itulah alasan mengapa ia tak pernah ada untuk aku, hanya seorang pembantu yang setia mendampingiku, meski selalu perbuatanku mengundang amarahnya.
Selayaknya anak-anak seusiaku yang menginginkan kebebasan bermain, membutuhkan kasih sayang orang tua secara penuh, membutuhkan pendidikan untuk bekal masa depan, tapi apa yang aku dapat? Semua hak itu tak aku dapatkan, Dan voor wat ik ben geboren?
Amsterdam, in Juni..
Risjtaffel, stammpot dan patat adalah makanan kesukaan ayah, dengan bantuan een assistent sejak sore hari tadi aku sibuk menyajikan ketiga makanan khas Belanda ini.
Hari ini tepat pada akhir pekan minggu ketiga bulan Juni, vandaag is het Father’s day, aku tak ingin melewatkan momen terindah bersama ayah dalam hidupku.
Malam menjelang, semua santapan sudah tersaji rapi di meja makan, tapi sejak tadi siang aku belum menyantap apapun ya demi mempersiapkan semua ini, dan demi ayah. Pukul 21.00 ayah belum datang juga, perutku semakin genting, dua waktu makan telah aku lewatkan. Bersikeras menahan lapar dan ngantuk aku bersandar di sofa menunggu kedatangan ayah. Berkali-kali aku tanyakan jarum jam menunjukkan angka berapa pada pembantuku, mungkin sebenarnya dia bosan karena hampir 20 kali aku menanyakan hal yang sama, dan terakhir jawabnya ketika itu pukul 22.00. Perutku terasa begitu panas bak terbakar api, badanku terasa begitu lesu, tapi ayah kemana? Pembantuku mungkin lelah, dari napasnya aku yakin dia tertidur saat aku ingin memintanya menghubungi ayah. Aku tak tega membangunkannya, perlahan aku meraba-raba tembok menuju telepon rumah, sempat sekali aku terjatuh tak kuasa menopang badanku, kakiku lemas.
Satu per satu tombol angka aku pijit, aku hapal betul nomor handphone ayah. Setelah menunggu beberapa saat, teleponku tak diangkatnya. Aku coba untuk kedua kalinya, responnya ternyata sama. Hampir aku putus asa, kondisi badanku semakin memburuk, tapi malam ini aku harus bertemu dengan ayah, aku ingin mengucapkan “Happy Father’s day, jij bent alles voor mij”. Sekali lagi aku mencoba menelponnya, kali ini aku beruntung, ayah mengangkatnya, tapi badanku semakin lemas dan bergetar tak kauan, aku tak dapat berbicara dan akhirnya terjatuh begitu saja. Mungkin disana ayah cemas, mengapa tiba-tiba tak ada suaraku. Spontan, pembantuku terbangun dan membawa aku ke kamar.
Dalam kecemasan itu, ayah menyingkat meeting di perusahaannya, padahal ada proyek besar yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Tapi kali ini demi aku, ayah yang biasanya tak peduli dengan keadaanku mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Brukkkk…” mobil ayah menabrak pembatas trotoar jalan, dengan cepat petugas kesehatan yang beroperasi 24 jam dengan mobil ambulancenya membawa ayah ke RS. Sint Lucas Andreas.
Telepon rumahku berdering, sontak pembantuku berlari dan mengangkatnya, kala itu aku tersadar dari pingsanku. Terdengar suara disana memberitahukan bahwa ‘Ir. Sam’ sedang sekarat di rumah sakit, beberapa kali aku saring kata-kata itu, apa aku tak salah dengar yang disebutkan tadi adalah nama ayah?
Pembantuku segera menelpon supir pribadiku untuk mengantar kami ke rumah sakit, hanya beberapa menit dalam perjalanan mobilku berhenti, pembantuku membantuku turun dari mobil, tempat ini begitu pekat sekali berbau obat, dimana ini?
“Grace…” suara terpatah-patah yang memanggilku, sepertinya aku kenal dengan suaranya, ya itu suara ayah. Aku meraba tangannya, ya itu tangan ayah. Apa yang sudah terjadi? Dokter menceritakan semuanya padaku, aku hanya bisa menggenggam tangannya dan berkata “Happy Father’s Day, Ik hou van je” genggaman itu semakin erat, namun melonggar seirama dengan suara detak jantung yang berhenti berdetak.
Kala itu, hari dimana seharusnya aku membahagiakan ayah, tapi berbalik malah menghilangkan nyawanya. Andai saja sebelumnya aku tak membuatnya cemas, pasti semua ini tak akan terjadi. Aku tenggelam dalam pelukan pembantuku dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Tuhan, mengapa aku terlahir di tengah orang-orang yang seharusnya memiliki kebahagiaan lebih?
Tuhan, mengapa aku terlahir jika aku tak bisa merasakan kebahagiaan?
Tuhan, mengapa aku terlahir sebagai malaikat pencabut nyawa bagi kedua orang tuaku?
Tuhan, aku tak ingin hidup sebatang kara, menyusul ayah dan ibu rasanya akan membuat aku lebih bahagia. Tanpa banyak berpikir, di tengah lengahnya perhatian pembantuku, aku mengambil bermacam-macam obat yang aku sendiri tak tahu obat apa itu, sontak aku memasukkannya kedalam mulutku. Reaksinya cukup cepat, aku merasakan pusing yang luar biasa dan akhirnya mulutku berbusa dan aku tak pernah terbangun lagi, kini aku telah menemukan kebahagiaan itu, bertemu ayah dan ibu di surga-Mu Tuhan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s