Sepenggal Kata Mengungkap Diabetes Melitus


LIFE IS MUST BE SWEET
Mari Hidup Teratur, Mari Maniskan Hidup
Karya : Alin Mardiah

Tidak dapat kita pungkiri bahwa dunia, kini sudah terintegrasi satu sama lainnya. Globalisasi telah membawa setiap negara seolah menjadi tanpa sekat, menjadi satu ruang yang sangat mudah untuk berinteraksi. Untuk pertama kalinya Theodore Levitt pada tahun 1955 menyatakan bahwa “Globalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses westernisasi atau modernisasi, yaitu merebaknya struktur modernitas barat yang  menyangkut kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme dan lain sebagainya yang cenderung merusak budaya lokal yang sudah ada sebelumnya”.

Globalisasi telah membawa dampak yang sangat besar disemua sendi kehidupan, mulai dari perkembangan teknologi, transportasi, ekonomi sampai adanya akulturasi budaya. Dalam hal ini, perkembangan globalisasi dibidang budaya membawa dampak yang cukup krusial bagi kehidupan suatu bangsa, dimana perkembangan budaya ini dapat membawa kemajuan hingga dampak negatif yang dapat mengancam kehidupan masyarakat sampai adanya disintegrasi suatu bangsa. Perkembangan globalisasi dibidang kebudayaan dapat membawa dampak yang baik, apabila masyarakat suatu bangsa tersebut mempunyai filter yang kuat dalam menyerap berbagai budaya yang masuk dan menjadikan budaya baru ini sebagai kekayaan atau aset baru untuk mereka kembangkan tanpa menghilangkan kebudayaan yang mereka punya sebelumnya. Sedangkan dampak negatif globalisasi dibidang budaya dapat mengubah tatanan atau pola hidup suatu bangsa yang apabila masyarakatnya kurang peka terhadap perkembangan ini dan tidak memiliki filter yang cukup kuat, sehingga mudah larut dalam kebudayaan yang baru, hingga memunculkan kemungkinan mereka mengartikan kebudayaan barunya dengan arti yang salah dan menghilangkan atau meninggalkan kebudayaan yang telah lama nenek moyang mereka pertahankan.

Layaknya semua bangsa di dunia, Indonesia juga telah larut dalam pertarungan globalisasi. Hal kebudayaan yang juga telah mengalami kemerosotan akibat banyaknya budaya luar yang masuk ke Indonesia juga kerap dirasakan. Tatanan atau pola hidup masyarakat, dewasa ini dirasakan telah mengalami banyak perkembangan, mulai dari meningkatnya kebiasaan malas yang ditunjukan dengan meningkatnya konsumi makanan instant atau makanan siap saji, gaya berpakaian yang semakin terbuka, gaya rambut yang semakin menghilangkan budaya Indonesia sampai sifat konsumtif dan tidak mau bekerja keras serta adanya ketidakteraturan hidup merasuk ke dalam jiwa-jiwa Indonesia. Pola hidup konsumtif dan tidak teratur inilah yang membawa dampak baru yang lebih mengenaskan, akibat dari pola hidup yang tidak teratur ini disinyalir mengangkat potensi yang semakin besar pada masyarakat Indonesia mengidap penyakit yang dikenal sebagai penyakit pembunuh ke-6 di dunia, yaitu Diabetes Melitus. Menurut data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) terdapat 350 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit diabetes melitus dan pada tahun 2014, sekitas 3,4 juta orang meninggal dunia karena kadar gula dalam darahnya tinggi.

Diabetes Melitus atau yang dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh ketidakmampuan organ pankreas untuk memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah dihasilkan oleh pankreas secara efektif atau dapat disebabkan oleh gabungan kedua hal yang telah disebutkan. Pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol, akan terjadi peningkatan kadar glukosa (gula) darah yang disebut hiperglikemia. Hiperglikemia yang berlangsung dalam waktu yang lama akan menyebabkan kerusakan serius pada sistem tubuh kita, terutama pada saraf dan pembuluh darah, seperti stroke, katarak, kebutaan dan gagal ginja. Diabetes melitus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Diabetes melitus tipe 1, yakni diabetes melitus yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin oleh pankreas, terdapat beberapa penyebab rusaknya organ pankreas dalam menghasilkan insulin ini yaitu faktor genetik dan infeksi virus tertentu.

2. Diabetes melitus tipe 2, yakni diabetes melitus yang disebabkan oleh resistensi insulin, sehingga penggunaan insulin menjadi tidak efektif. Para pakar kesehatan telah banyak menjelaskan bahwa penyebab dari diabetes melitus tipe 2 ini adalah faktor genetik dan faktor lingkungan yang di dalamnya dikarenakan adanya pola hidup yang tidak teratur.

3. Diabetes gestasional, yakni hiperglikemia yang pertama kali ditemukan pada saat kehamilan, penyebabnya tidak jauh dari diabetes tipe 1 dan 2.

Selain jenis dan penyebab 3 jenis diabetes melitus, yang juga penting untuk diketahui adalah faktor risiko tingginya potensi terkena penyakit diabetes melitus ini. Perlu diketahui bahwa faktor risiko diabetes melitus adalah genetik atau keturunan, obesitas atau kegemukan (adanya resistensi hormon insulin), usia yang semakin bertambah (berkurangnya kepekaan terhadap insulin), kurangnya aktivitas fisik (menyebabkan lemahnya pankreas dalam memproduksi insulin), merokok, mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, stres dalam waktu yang lama, hipertensi atau darah tinggi dan terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan kimia. Selain itu, yang perlu juga untuk diketahui adalah gejala-gejala terkena diabetes melitus yang diantaranya adalah adanya rasa haus yang berlebihan, meningkatnya frekuensi buang air kecil, banyak makan dan penurunan berat badan secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

Tapi tidak usah khawatir, terdapat beberapa cara mencegah terkena diabetes melitus, yaitu:

1. Pencegahan primer, ditujukan untuk orang-orang yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes melitus, dapat dilakukan dengan melakukan pola hidup yang baik dan teratur seperti memakan makanan yang sehat dan mengandung lemak rendah, menjaga berat badan dan olahraga yang teratur.

2.  Pencegahan sekunder, ditujukan untuk upaya menghambat timbulnya komplikasi dengan deteksi dini, hal ini dapat dilakukan dengan diet yang sehat dan seimbang, menjaga berat badan, olahraga teratur dan memantau kadar gula darah secara periodik.
Pencegahan tersier, ditujukan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dari komplikasi penyakit, dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat dan direkomendasikan untuk mengkonsumsi obat alami diabetes melitus seperti teripang.

3. Bagi pengidap penyakit diabetes melitus, meski penyakit ini dikatakan sulit untuk disembuhkan, akan tetapi masih ada jalan yang lebih baik, yaitu mengontrol kadar gula dalam darah yang dapat dilakukan dengan cara terapi, diet yang seimbang dan bernutrisi rendah lemak, kolesterol dan gula sederhana, olahraga yang teratur, menurunkan berat badan, melakukan aktivitas yang teratur, berhenti merokok dan pemantauan kadar gula darah yang dapat dilakukan sendiri dengan menggunakan alat glukometer.

Oleh karena itu, marilah kita generasi muda bangsa Indonesia, mari kita bersigap mempersiapkan diri untuk melawan risiko diabetes melitus yang sebagian besar kini disebabkan oleh pola hidup yang tidak teratur yang berakar pada penyigapan terhadap perkembangan globalisasi dibidang kebudayaan yang sangat kurang. Mari kita bergerak memaniskan hidup Indonesia tanpa diabetes melitus dan mengukuhkan kembali budaya-budaya tradisional Indonesia yang menjunjung tinggi kesehatan masyarakatnya. Cintai budaya Indonesia, mari hidup teratur, mari maniskan hidup!

 

DAFTAR PUSTAKA

Link Terkait:
http://diabetesmelitus.org diakses pada tanggal 15 Juni 2014 pukul 06:45:12.
http://info-herbal.com diakses pada tanggal 15 Juni 2014 pukul 07:12:22.
http://carakata.blogspot.com/definisi-globalisasi-menurut-para-ahli.html diakses pada tanggal 15 Juni 2014 pukul 06:35:11.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s