SAFETY IS THE MOST IMPORTANT


 

Taatilah Peraturan, atau Keselamatanmu akan Terancam!

Tidak dapat kita pungkiri bahwa dunia, kini sudah terintegrasi satu sama lainnya. Globalisasi telah membawa setiap negara seolah menjadi tanpa sekat, menjadi satu ruang yang sangat mudah untuk berinteraksi. Untuk pertama kalinya Theodore Levitt pada tahun 1955 menyatakan bahwa globalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses westernisasi atau modernisasi, yaitu merebaknya struktur modernitas barat yang menyangkut kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokratisme dan lain sebagainya yang cenderung merusak budaya lokal yang sudah ada sebelumnya.

Globalisasi berpengaruh pada segala aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, nasionalisme, komunikasi, sistem transportasi bahkan lingkungan hidup. Pengaruh dalam aspek transportasi dianggap paling krusial dalam masyarakat yang terjun dalam arus globalisasi, karena pada era ini dengan menggunakan alat transportasi yang semakin canggih akan mempermudah mobilisasi, sehingga alat transportasi dianggap menjadi kebutuhan primer yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dewasa kini.

Transportasi dibagi menjadi 3 kelas, yaitu transportasi darat (kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan atau manusia dan sebagainya), transportasi air (kapal, perahu, rakit dan sebagainya) dan transportasi udara (pesawat terbang). Dalam praktiknya, transportasi dibagi menjadi 2, yaitu transportasi pribadi dan transportasi publik. Namun, konsep transportasi publik memiliki efisiensi lebih, contoh konsep transportasi publik atau kendaraan umum adalah angkot, bus, kereta api dan kapal laut. Pengertian kendaraan umum berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor. 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum, kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung.
Indonesia yang masih berstatus sebagai negara berkembang, masalah sistem transportasi akibat arus globalisasi yang deras ini adalah salah satu hal serius yang harus ditangani, karena dibalik dampak positif adanya kemajuan dalam bidang transportasi, ternyata membawa dampak negatif seperti meningkatnya kriminalitas, meningkatnya jumlah korban akibat kecelakaan, polusi udara yang menurunkan kadar kebersihan udara yang berdampak besar terhadap kesehatan mahluk hidup serta terkikisnya karakter bangsa yang menjunjung tinggi kepedulian terhadap lingkungan.

Kemahsyuran alat transportasi, khususnya transportasi darat di Indonesia, telah menjamah dan merajai disemua golongan, baik golongan tua maupun golongan muda, golongan berpenghasilan maupun yang belum berpenghasilan. Ini menandai jumlah alat transportasi yang beroperasi di Indonesia sangat besar, terlebih jika diperhatikan kembali jumlah penduduk Indonesia yang saat ini menduduki peringkat ketiga penduduk terbanyak di dunia. Faktanya kini, jumlah penduduk yang banyak, berbanding lurus dengan jumlah kendaraan yang ada di Indonesia. Data yang diperoleh dari badan pusat statistik (BPS) dan Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri), jumlah alat transportasi darat yang meliputi bus, truk, mobil penumpang, kendaraan khusus dan sepeda motor pada tahun 2012 mencapai jumlah 94.372.324 buah.

Berlimpahnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, harus diikuti dengan kesadaran pengendara dan peraturan yang mengikat tentang peraturan berkendara di jalanan umum (peraturan lalu lintas) sebagai upaya meminimalisir dampak buruk adanya kemajuan dibidang transportasi yang telah disebutkan di atas. Dalam berkendara, keselamatan merupakan harapan utama yang selalu didamba, dengan apa keselamatan ini dapat didapat? Diperlukannya kesadaran pengendara bahwa keselamatan adalah segalanya, dan kesadaran akan memenuhi peraturan yang telah pemerintah buat, guna memelihara keselamatan dalam berkendara. Sebagaimana tertera dalam UU Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 sebagai pengganti UU No. 14 Tahun 1992, tentang sanksi pelanggaran peraturan lalu lintas bagi para pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat atau lebih.

Dalam beberapa peraturan perundang-undangan tentang lalu lintas, pengendara sebenarnya telah diajak untuk lebih memperhatikan keselamatannya dalam berkendara, berikut beberapa peraturan yang telah dibuat dengan tujuan untuk menjaga keselamatan pengendara yang kini banyak sekali dilakukan pelanggaran.

1. Mengenakan Helm Standar Nasional Indonesia (SNI), sebagaimana pasal 57 ayat (2) dan pasal 106 ayat (8) memberlakukan untuk penggunaan helm SNI (bukan helm catok). Sanksi bagi pelanggar adalah pidana kurungan paling lama satu bulan, atau denda paling banyak Rp. 250.000,- (pasal 291).

2. Menggunakan perlengkapan berkendara yang komplet, UU Lalu Lintas No. 22 Tahun 2009, pasal 57 ayat (3) mensyaratkan, perlengkapan sekurang-kurangnya adalah sabuk keselamatan, ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, helm dan rompi pemantul cahaya bagi pengemudi kendaraan bermotor beroda empat atau lebih yang tak memiliki rumah-rumah dan perlengkapan P3K. Sanksi pelanggarannya adalah pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp. 250.000,- seperti diatur dalam pasal 278.

3. Berkonsentrasi saat berkendara, sebagaimana UU Lalu Lintas pasal 283 mengatur setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi, akan dikenakan sanksi berupa pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp. 750.000,-.

4.  Menyalakan lampu utama di malam hari, pelanggar akan dikenakan sanksi berupa pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp. 250.000,-.

5. Menyalakan lampu utama di siang hari, pelanggar akan dikenakan sanksi berupa pidana kurungan paling lama 15 hari atau denda paling banyak Rp. 100.000,-.

Mari kita perhatikan secara seksama, manakah diantara peraturan di atas yang merugikan kita sebagai pengendara? Bukankah telah jelas dibentuknya berbagai peraturan tentang lalu lintas, tak lain hanya untuk menjaga keselamatan pengendaranya? Dibentuk dan diberlakukannya seluruh peraturan lalu lintas bukan semata-mata sebagai tunjangan penghasilan tambahan bagi polisi maupun penertib lalu lintas lainnya, bukan juga dijadikan sebagai pandangan untuk menakuti diri akan kehadiran polisi di setiap ruas jalan, atau dengan kata lain takut akan penilangan. Adanya peraturan, hendaknya dijadikan pedoman untuk selalu sigap dan menjunjung tinggi keselamatan diri  selama berkendara. Pada dasarnya, tidak diperlukan banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat dengan tujuan menjaga keselamatan pengendara, jikalau semua pengendara telah memiliki kesadaran bahwa keselamatan adalah hal terpenting dalam berkendara. Oleh karena itu, berlimpahnya peraturan tentang lalu lintas di Indonesia, mengindikasikan bahwa kesadaran akan keselamatan berkendara dalam diri setiap pengendara masih rendah.

Rendahnya kesadaran akan keselamatan berkendara ini merupakan hal serius yang seyogyanya menjadi sorotan khusus bagi generasi muda Indonesia, karena negeri ini milik kita, keselamatan penduduknya adalah tanggung jawab kita bersama. Terlebih pada era ini, banyak sekali pengguna kendaraan yang berasal dari generasi muda, khususnya golongan pelajar. Sebagai pelajar yang berpendidikan, sepatutnya kita menjadi tauladan bagi orang lain khususnya dalam hal berkendara. Pelajar yang berpendidikan adalah pelajar yang cerdas, disiplin dan patut dijadikan contoh sebagai cerminan generasi muda yang siap menghadapi berbagai permasalahan negeri. Apa yang dapat kita lakukan sebagai pelajar dalam mempelopori kesadaran untuk mentaati peraturan lalu lintas guna menjaga keselamatan dalam berkendara? Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan, yaitu:

1. Mulailah dari diri sendiri untuk senantiasa mentaati peraturan yang berlaku, maka saat kita mengajak orang lain untuk ikut serta dalam pentaatan peraturan, mereka tidak akan ragu lagi dengan sikap disiplin yang kita miliki.

2. Mensosialisasikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berkendara, terlebih berkaitan dengan peraturan yang berlaku, sosialisasi ini dapat dilakukan setidaknya dimulai dari lingkup pertemanan.

3. Selalu mengingatkan orang lain untuk selalu mentaati peraturan lalu lintas dan mempersiapkan peralatan yang komplet saat akan berkendara.

Beberapa poin di atas adalah saran tentang hal apa yang dapat pelajar lakukan sebagai pelopor keselamatan dalam lalu lintas, masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk ikut serta menumbuhkan kesadaran untuk mentaati peraturan lalu lintas guna menjaga keselamatan para pengguna jalan.

Pelajar Indonesia adalah generasi muda tunas-tunas bangsa yang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke dalam masa kejayaannya. Indonesia membutuhkan generasi muda yang taat, disiplin dan tangguh dalam menghadapi berbagai masalah. Arus globalisasi memang tidak dapat dielakkan, akan tetapi masih banyak persoalan akibat globalisasi ini yang harus di tata ulang khususnya di Indonesia. Masalah akan majunya bidang transportasi ini adalah salah satu hal yang penting, masalah kecelakaan akibat pelanggaran peraturan lalu lintas sangat kerap terjadi. Oleh karena itu, mari kita sebagai generasi muda Indonesia bersiap menjadikan diri untuk menjadi pelopor keselamatan berkendara dan sigap menghadapi tantangan arus globalisasi yang semakin menjadi. Salam peduli keselamatan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s