SIAPA?


Bruk! Hempasan tas berisi beberapa buku tebal berbahasa asing pun memecah keheningan malam jejeran kamar kost yang mulai menyepi.

Perlahan ku buka pintu kamar, ya pasti terkunci, wajar saja jam tanganku saja sudah menunjukkan pukul 00:45 WIB.

“Non….” Panggilku dengan frekuensi suara yang tak begitu keras.

Kreeek…. suara dibukakannya pintu setiap malam di pekan ini oleh Noni teman sekamarku memang hal yang bisa, disambut raut wajah yang menahan kantuk, tak tega sebenarnya selalu mengganggu ketenangan mimpi indahnya.

Kembali Noni melanjutkan mimpinya yang tertunda, guling berbalut sarung berwarna merah muda dengan motif bunga kembali dipeluknya dengan erat. Aku hanya bergegas mengganti pakaian dan membersihkan wajahku lalu mengunjungi pulau kapuk untuk melepas lelah yang tak tertahankan lagi.

“Nananana nananana, you are the music in me….” Lagu High School Musical ini menjadi pilihan alarmku setiap pagi, ya aku suka sekali dengan lagu ini. Pagi ini pun sama, lagu ini berputar otomatis saat aku mengaturnya tepat di pukul 05:00.

Noni rupanya telah bangun lebih dulu, bahkan dia rupanya sudah berpakaian rapi dan rasanya tak lama lagi akan berangkat, entah kemana.

“Subuh gini udeh rapi, mau kemane emang Non?” tanyaku dengan logat kebetawian dengan nada yang masih samar karena baru tersadar dari tidur singkat.

“Kakak lupa ya, kan hari ini aku pergi KKN” jawabnya singkat sambil merapikan hijab ungu muda yang dikenakannya lengkap dengan jaket almamater hijau tuanya.

Aku lupa bahwa hari itu Noni adik angkatanku akan pergi melaksanakan tugas kuliahnya yaitu kuliah kerja nyata (KKN) di salah satu desa terpencil di Provinsi Banten.

“Oh iya, bentar ya!” aku langsung lompat dari kasur tipis menuju kamar mandi mungil untuk sekadar membasuh wajah dan menggosok gigi.  Jeans kemarin menjadi pilihan untuk aku kenakan dengan kardigan hitam dan kerudung berwarna coklat muda yang telah aku semproti dengan parfum, aku siap mengantar Noni.

“Pergi sekarang Non?”

Dia hanya membalas dengan anggukan lengkap dengan senyum manisnya lalu menggendong ransel mungilnya.

“Aku berangkat ya kak..” ucapnya sambil memasukkan kopernya ke bagasi bus kampus dan menjabat tanganku untuk bersalaman.

“Hati-hati ya, disana jangan terlalu sering main ke pantai, tambah item nanti, hahaha” candaku singkat sambil kembali ke kostan.

Sepi sudah kamar ini untuk sebulan ke depan, hanya tumpukkan kertas tugas akhir kuliahku yang meramaikan kamar.
Drrrttt..drrrtt.. handphone ku bergetar pertanda sebuah pesan baru untukku. Kulihat pengirimnya, oh ternyata pesan itu dari ibuku.

“Kak, Noni sudah berangkat? Kamu baik-baik di sana, semangat ngerjain skripsinya ya kak”

Aku termenung memikirkan makna kata-kata ibuku yang mengisyaratkan agar aku dapat segera lulus dan menyandang gelar sarjana pendidikan. Seketika energy positif itu terbangun, aku ambil secarik kertas kosong dan menuliskannya dengan tinta hitam tebal.

“GUE LULUS TAHUN INI, PASTI!”

Setelah semangat itu terbangun kembali, aku bergegas membersihkan badan dan berpakaian rapi.  Lengkap dengan tas ransel berisi notebook serta beberapa buku kecil di tangan aku pergi ke perpustakaan kampus untuk menyelesaikan skripsiku ini. Hanya berbekal sepotong roti kemarin yang menjadi pengganjal perutku pagi ini, aku tetap bersikeras pergi .

“Wah ada yang semangat skripsian kayaknya..” sindir pak Jo salah satu satpam perpustakaan yang kenal sekali denganku, kenal dengan segala kepasrahan dan kemalasanku .

“Ah pak Jo, udah deh lagi dapet ilham nih haha” candaku sambil menyalakan notebook di lantai 3 perpustakaan.

Aku asingkan segala ocehan pak Jo yang masih saja berkicau, aku hanya mengangguk-angguk mengisyaratkan bahwa aku ingin focus. Aku mulai membuka beberapa buku referensi dan mengetik beberapa kata untuk melangkapi tugas akhirku. Waktu seolah berlari begitu cepatnya, 12 jam dalam sehari rasanya tak cukup.

“Pak Jo, bagian piket malem ini kan?”

“Iya Ref, kenapa? Kamu mau malem mingguan disini? Dasar jomblo haha” canda pak Jo.

Tak ingin memperpanjang pembicaraan yang tak berguna itu, aku langsung beranjak ke lantai 3 tempat dimana seharian ini aku menghabiskan waktu.

Pukul 23:30, aku masih terjaga dengan setumpuk buku yang harus aku baca lagi. Malam itu terasa sangat dingin karena AC di ruangan itu ternyata masih menyala dengan aktif di 21’C.

“Neng Refa, disini dingin banget, nih bapak bawain teh anget biar gak masuk angin” Ya pak Jo memang perhatian sekali meski terkadang menyebalkan.

“Wah si bapak emang paling top markotop perhatiannya haha” sanjungan yang terdengar begitu alay. Percakapan berakhir setelah 15 menit berlalu, kemudian dia izin pergi untuk berjaga kembali.

Pukul 00:30 setelah secangkir teh itu aku seruput sampai habis, aku memutuskan untuk kembali ke kostan . Aku turun ke lantai dasar untuk mengembalikan cangkir bekas teh pemberian pak Jo. Tapi, tak kudapati pak Jo yang berjaga, hanya pak Mukhlis yang aku dapati.

“Pak Mukhlis, pak Jo kemana? Nih aku mau balikin cangkir teh”. Tak aku dengar kata-kata jawaban dari pak Mukhlis, hanya raut wajah kebingungan yang aku lihat.

“Kenapa pak?”

“Pak Jo ngasih teh ke kamu jam berapa neng Refa?”

“Sejam yang lalu pak, kenapa sih? Pak Jo pasti ketiduran ya pak?
Sudah kuduga haha” candaku sambil meletakkan cangkir itu di meja piket.

“Sejam yang lalu? Tapi pak Jo malam ini tidak jadi piket, sejak magrib tadi dia sudah pulang karena anaknya mendadak masuk RS”

“Lah boong nih bapak, orang tadi ngobrol panjang lebar juga sama aku” tak ingin membahas lebih dalam karena seketika aku merinding dan memutuskan untuk berlari sampai ke kostan.

“Tok.. tok.. tok.., Noni aku pulang “

Kreekk, pintu itu segera terbuka, ku dapati Noni seperti biasanya dengan raut muka menahan kantuk. Dan melanjutkan tidurnya.

“Non tau gak tadi aku ngalamin kejadian aneh banget ….” Cerita panjang lebar yang aku sampaikan tak sedikit pun Noni gubris, ya mungkin dia sudah tidur sangat lelap.

Dengan segala kecemasan dan ketakutan aku memaksakan untuk tidur karena esok aku harus segera merapikan skripsiku untuk diserahkan ke dosen.

Pagi itu pukul 05:00 teleponku berdering, bukan alarm yang menyala tapi ada pesan dari seseorang.

“Kak Refa, udah bangunkan? Disini dingin banget loh kak, makanya aku bisa bangun lebih pagi haha” Suara itu tak asing, aku lihat nama yang tertera di handphone ku “Noni” seketika aku baru ingat bahwa dia sedang KKN.

Aku semakin merinding, perlahan aku membalikkan badan ke arah tempat tidur Noni untuk memastikan siapa yang membukakan pintu untukku malam tadi.

Well merinding itu semakin menjadi tatkala tak aku dapati seorang pun di tempat tidur Noni. Lalu? Siapa dia yang membukakan pintu dan mendengar cerita anehku malam tadi?

Pertanyaan yang sampai sekarang tak terjawab, siapa pak Jo dan Noni yang aku temui malam itu?

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s