MEMBELAH LANGIT KELAM (Cerpen Karya Bocah Kelas X dulu)


 

Bau sampah, kumuhnya rumah bukan lagi masalah bagiku, malah merekalah yang menjadi sahabat dikeseharianku sekarang. Miskin, kucel, kotor, itulah diriku dimata orang lain, tapi dipandangan ayah dan ibuku, aku tetap menjadi bintang di hatinya. Aku senang sekali membantu ibu mencari nafkah di tumpukan harta buangan orang-orang kaya, meski itu baunya busuk, terkadang aku juga senang bisa membantu ayah mengulur tarik tali melabuhkan kapal-kapal bangsawan.

Tidak pas rasanya jika sehari saja aku tak cerita di pantai nan luas ini, di pesisir barat jawa menghadap selat sunda. Hanya butiran pasir dan ombak pantai yang mencatat jejak rekam suka dukaku, merekalah sahabatku dalam keadaan apapun.

Suatu hari, aku ingat pada selembar kertas yang mencatat nilai hasil keringatku, dengan nilai ujian nasional hampir sempurna, yaitu IPA (9,75), matematika (10,00), dan bahasa Indonesia (10,00), cukup memuaskan bukan?

Ku pandang seragam putih merah lusuh yang tergantung di balik pintu kamarku, aku tersenyum sejenak, mengenang pahit manisnya merindu duduki bangku sekolah. Tapi itu hanya harapan belaka, jangankan untuk sekolah, biaya makan sehari-hari pun belum tertanggung sempurna. Tak tahan aku ingin menangis dan menjerit, lariku ke pantai jumpai kawan sejatiku.

“Pantai, aku rindu membaca, berhitung, dan bernyanyi bersama, aku ingin sekali mengenakan seragam putih biru, tapi itu tak mungkin.”

Entah apa yang aku pikirkan di hadapan pantai, namun rasanya aku mendengar bisikan yang merasuk hatiku.

‘Disini kamu masih bisa membaca, berhitung, dan bernyanyi bersama’.

“Aku tak mengerti maksud ucapanmu pantai, mana mungkin aku bisa dapatkan itu semua disini”.

Petang menggiringku kembali ke kandang, sepanjang jalan pulang aku tak dapat berhenti memikirkan perkataan pantai tadi.

Iri semakin iri, sepi semakin sepi, berharap semakin dalam namun bintang tak juga mendekat.

Hari ini jadwalnya aku membantu ibu, kami berjalan menuju TPA. Semalam hujan turun sangat deras, jalan yang hanya berlapis tanah rasanya begitu licin. Jalan tanah dan sedikit berbatu harus kami taklukan, tiba-tiba dijalan menurun, ibu tergelincir, tak sempat aku meraih tangannya, dia terperosok ke sungai yang alirannya sedang deras sekali.

“Tolong.. tolong..” teriakku, namun tak ada jawaban. Secepat kilat aku lari menuju pantai untuk memberitahu ayah apa yang sedang terjadi.

Ketika sampai di pinggiran pantai tempat ayah bekerja, terlihat sekelompok orang sedang berkerumun.

‘Ada apa ya?’ Gumamku, sedikit cemas.

Aku coba berjalan memotong kerumun, wajahnya pucat pasi! Mulutnya berlumuran darah, sosok itu ‘Ayah’, ya memang beberapa hari belakangan ini, ayah sering mengeluh dadanya sakit dan sering batuk.

Tapi mengapa aku harus melepas keduanya dengan cepat dan bersamaan?

Mayat ibu telah berhasil warga evakuasi dan dibawanyalah ke rumahku, begitu pula dengan mayat ayah, setelah keduanya dimakamkan di pemakaman umum yang tempatnya tak jauh dari tempat ayah bekerja, aku sempatkan diri duduk di batu di pinggir pantai sembari bercerita pada pantai.

“Pantai, mengapa Tuhan begitu tega padaku? Mengambil kedua orang tuaku dengan cepat, padahal aku sangat membutuhkan mereka, aku tak dapat hidup sebatang kara, aku tak dapat..” Tak kuasa aku melanjutkan kata-kata setetes air hinggap di pipi kananku.

“Tuhan menyayangimu, tersenyumlah, ada aku dan mereka dalam hidupmu”. Rasanya pantai menjawab kegundahan hatiku lewat deburan ombak yang memecah keheningan hatiku.

Aku tak dapat terima perkataan pantai. Jika Tuhan sayang padaku, mengapa Dia lakukan ini?

Petang seakan memaksaku untuk kembali ke rumah, tapi bukankah percuma? Aku lebih memilih tetap di pantai, hanya pantai yang dapat menemaniku. Titik-titik terang jauh di angkasa sana menjadi penerangku di malam kelam ini, sinar rembulan seakan menyelimuti kepedihan hati yang baru saja terluka karena pisau menyayat hatiku.

‘Aku teman keduamu, aku menunggumu menumpahkan cerita padaku’. Aku mendengar perkataan tulus dari sang rembulan yang menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat kedua setelah pantai.

“Terima kasih bulan, hari ini aku sedang berduka, kedua orang tuaku meninggalkanku untuk selamanya, kini aku hidup sendiri, hanya kau dan pantai yang menjadi teman hidupku”.

‘Jangan bersedih, kau tidak sendiri, kau dapat hidup denganku jika kau mau’.

Aku terheran-heran mendengar perkataan bulan tadi, aku dapat hidup dengannya? Bagaimana mungkin, jarak aku dan bulan sangat jauh.

‘Aku tunggu kedatanganmu gadis cantik’. Aku hanya tersenyum membalas perkataan bulan, malam semakin larut, tapi aku belum merasa ngantuk sedikit pun. Deburan ombak seakan mengajakku bersenandung dalam lagu.

“Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu, kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu”. Memang belum sempat aku katakana bahwa aku sangat mencintai kudua orang tuaku. Hujan menyambut pagiku, tak terasa malam cepat sekali menjelang. Goresan yang terpampang di kanvas langit begitu memukau, aku melambaikan tangan pada bulan yang pamit untuk pulang.

Aku kembali ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu aku pergi menelusuri perkampungan, langkahku mengajakku hinggap di sebuah sekolah menengah pertama. Aku pandangi tebaran putih biru dan tersenyum membayangkan betapa bahagianya jika aku dapat menjadi salah satu anggota sekolah.

Aku coba melangkah memasuki sekolah itu. Namun langkahku terhenti, seorang laki-laki dewasa melemparkan sebuah tas kepadaku dan berlari kencang, di belakangnya disusul kelompok orang yang mengejarnya dan terhenti di hadapanku.

“Ini dia malingnya!” Teriak seorang siswa laki-laki.

“Apa? Maling? Tidak, aku bukan maling.” Bela ku.

Kelompok orang itu menyeretku ke ruang kepala sekolah, rasanya aku akan dihakimi atas kesalahan yang bukan salahku.

“Kamu siapa? Mengapa berani-beraninya masuk sekolah ini dan mencuri tas salah satu pelajar disini?” Tanyanya padaku.

“Saya Sinta pak, kedatangan saya ke sini bukan untuk mencuri, hanya ingin merasakan suasana sekolah saja pak, ini tas bukan saya yang mencuri, tapi ada seorang laki-laki yang melemparkannya pada saya pak, jadi ini bukan salah saya pak”. Jelas ku.

“Yasudah apa pun itu alasanmu, kamu tetap harus di beri hukuman Kebetulan, petugas kebersihan sekolah sedang sakit, jadi saya minta kamu menggantikan tugasnya untuk 2 bulan ke depan”. Aku mengangguk pelan.

Aku mulai mengepel diantara rak buku di perpustakaan, sesekali aku berhenti dan memandangi barisan buku, aku ambil satu buku dan membacanya sambil mengepel.

Hari ini dan seterusnya begitulah pekerjaanku, banyak buku yang sudah aku baca sambil bekerja.

“Anak-anak, tempat terjadinya penyaringan darah di ginjal terjadi dimana?” Tanya guru biologi di salah satu kelas, semua murid terdiam tak ada yang dapat menjawab.

“Glomerulus bu”. Jawabku, sambil menyapu teras depan kelas. Semua murid terheran-heran, petugas kebersihan saja bisa menjawab.

Mungkin kejadian ini guru biologi sampaikan ke kepala sekolah, karena itu aku di panggilnya.

“Sinta, sudah berapa banyak buku yang kamu baca selama membersihkan perpustakaan?” Tanya pak Kepala Sekolah.

“Ya hampir semua mata pelajaran pak”. Jawabku sambil ketawa kecil.

“Kamu mau sekolah? Tapi tanpa meninggalkan pekerjaanmu ini?” Aku langsung menyambar tawaran ini dengan anggukan.

Hari ini, hari pertama aku mengenakan seragam putih biru, sesekali aku tersenyum seolah ini hanya mimpi. Setiap detik di sekolah aku nikmati, agar tak ada satu detik pun yang aku sia-siakan.

Hari-hari di sekolah aku gunakan untuk sungguh-sungguh belajar, jam-jam istirahat selalu aku sempatkan untuk membaca buku di perpustakaan sekolah.

Suatu hari, ketika aku menyapu perpustakaan, aku bingung akan membaca buku apa, sedangkan hampir semua buku pelajaran sudah aku baca. Aku berjalan menelusuri setiap rak buku, sampai di pojok kanan perpustakaan aku lihat ada tumpukan ensiklopedia, aku sisir barisan buku rak bawah. “DUNIA BINTANG”, waw menarik sekali.

Tepat di halaman 333, ada pembahasan mengenai bulan, dia sahabatku, akhir-akhir ini, aku tak pernah cerita padanya, apa dia merindukanku? Atau malah dia marah padaku? Tiba-tiba aku ingat perkataannya dulu. ‘Kamu dapat hidup denganku’, sekarang aku tahu maksudnya. Mulai dari sinilah, awalku mencintai ilmu “ASTRONOMI”.

Prestasiku di SMP ini memang cukup membanggakan, tapi ada saja teman yang tak suka pada prestasiku ini.

“Heh orang miskin, kucel, kau itu tak pantas sekolah di sini, pantasnya tetap menjadi petugas kebersihan! Dasar orang miskin sok pintar!” Ucap Dara sambil menyentulkan kepalaku.

Aku tak ingin menanggapi omongannya, karena masih banyak yang simpati padaku, dunia juga mendorongku untuk sukses.

Selepas dari sekolah menengah pertama, dengan hasil yang cukup memuaskan, aku melanjutkan pendidikan di salah satu SMA favorit di Kabupaten Pandeglang. Di sekolah baruku ini, aku giat mendalami ilmu Astronomi, demi cita-cita yang baru aku bulatkan sebulan lalu yaitu menjadi astronot.

Kamarku kini sesak oleh tumpukan-tumpukan buku tentang dunia perbintangan, ternyata, buku itu, meski kecil dan berharga murah, tapi manfaatnya luar biasa kawan, sampai sempat aku berpikir, sihir yang paling ampuh adalah buku.

Satu persatu buku aku baca, tekadku untuk menginjakkan kaki bertemu sahabatku semakin bulat, puluhan buku kini giat membantuku meraih cita-citaku.

Hari Selasa pukul 15.30 adalah waktu wajibku menemui pantai.

“Matahari adalah bintang terbesar di tata surya, ia dibentuk oleh unsur helium, hidrogen dan unsur-unsur berat lainnya, sinarnya merupakan energi hasil konversi helium dan hidrogen, ya itulah yang sudah aku baca tentang matahari, pantai”.

“Lalu, apalagi yang sudah kau pelajari?” Tanya pantai ingin sekali belajar dariku.

“Oh ya, aku juga baca kalau jarak kita di bumi ini, dengan sahabat kita bulan cukup jauh sekitar 384.000 km, apa mungkin aku dapat bertemu dengannya?”

“Tentu saja Sinta, tak lama lagi kau dapat menjumpainya, dengan bekal ilmu, kau pasti bisa”.

Aku semakin semangat dan optimis sekali, selulusnya dari SMA aku memutuskan untuk mencoba daftar di Institute Teknologi Bandung dengan fakultas Astronomi, ternyata bukan sekadar harapan, ini menjadi kenyataan.

Saat masa-masa kuliah ini, jalan hidupku tak begitu saja berjalan mulus, anak yang terlahir dari keluarga tidak mampu dan kini hidup sebatang kara, harus mengimbangi kuliah dengan bekerja, demi kelangusngan hidup dan kelangsungan pendidikannya.

Tapi rasanya sudah biasa menatap langit kelam, ya karena hampir 7 tahun sudah aku hidup seorang diri. Dengan melihat penampilanku yang kucel dan badanku yang kurus kering ini, orang-orang juga pasti sudah tidak akan menebak jika aku lahir dari keluarga berdarah biru.

Bertemankan minyak, tepung terigu, tempe, dan pisang aku tekuni usahaku, malu seribu malu tetap saja harus aku jalani. Di kamar kecil yang sudah dilengkapi kamar mandi yang tak begitu mewah aku jalani masa-masa kuliahku, gerobak kayu mungil di depannya, itulah markas suksesku. Dan tak malu lagi, jika harus membawa nampan berisikan gorengan ke kampus nan terkenal ini.

IPK disemester awalku cukup memuaskan, angka 3, 85 cukup menggugah hati dan memberi sinyal positif akan semangatku menaklukan dunia. Semester demi semester aku jajaki dengan semangat. Akan tetapi, menginjak semester 6 langkahku mulai tersendat.

‘Tuhan, janjimu memang terbukti, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan jangan terlalu bersenang dalam kesenangan, karena gerbang kesulitan sudah menunggu’. Gumamku sambil menggoreng tempe dan pisang yang sudah dilumuri tepung terigu.

Karena terlalu larut dalam kegundahan, dan terlalu asyik termenung dalam khayal, minyak nan panas itu seketika menyambar wajahku.

“Toloooooong..” teriakku di tengah pedihnya menahan sakit.

Temanku yang kebetulan bertetangga denganku langsung membawaku ke rumah sakit. Beruntung aku masih dapat bernapas dan melihat meski pun sedikit buram. Semburan minyak itu tak menjadi penghalangku untuk terus bekerja demi kelangsungan pendidikanku.

Ya meski hanya bermodalkan pisang goreng dan tempe goreng, tapi pada akhirnya aku dapat menamati langkahku di institute ternama ini, dengan hasil akhir yang cukup memuaskan.

“Apa benar ini keberadaan Sinta?” terkagetku dengan kedatangan seorang pak pos.

“Iya pak, ada apa?”

“Ini ada surat dari University Of America”. Jelasnya sambil memberikan amplop coklat yang entah bertuliskan apa.

Perlahan surat itu aku buka, kata demi kata aku baca dengan sungguh-sungguh, sampai pada paragraph ketiga dari isi surat menampilkan kata-kata yang sangat mengagetkanku.

“We’ve got a recommendation where you study, the result you achieve so satisfying, so we give you the offer to continue your education at our university, with a line of pure scholarship, all your needs will be met by the state”.

Tuhan memang adil, tak membiarkan hambanya hidup terus menerus dalam keterpurukan. Segera aku menyelesaikan administrasi untuk melanjutkan pendidikanku di Amerika.

Tekun dan terus tekuni ilmu astronomi ini, akhirnya aku dapat bergabung di NASA.

Hari ini, aku akan meroket membelah langit kunjungi sahabatku, do’akan aku kawan, semoga selamat sampai tujuan.

Pesawat luar angkasa ku menubruk sesuatu, dan kehilangan keseimbangannya.

“Apa ini sudah sampai?” Ucapku sambil keluar dari pesawat.

“Selamat datang sahabatku Sinta, cita-cita mu terkabul sudah”. Bisik lembut bulan di telingaku.

Terima kasih buku telah memberiku ilmu, berhasil sudah aku membelah langit ku yang kelam, dan bertemu sahabatku, bulan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s